Posted on: September 24, 2020 Posted by: eddye Comments: 0

Pengaruh budaya Tionghoa juga ditemukan pada batik di pantai utara Jawa Tengah, yang sekarang dikenal sebagai Lok Can. Lok Can adalah seekor burung yang dibawa oleh tentara Tatar. Setiap daerah di Indonesia memiliki motif yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Orang Cina mulai membatik pada awal abad ke-19. Jenis batik ini dibuat oleh orang Tionghoa atau Peranakan yang menampilkan motif dengan ornamen hewan mitos Tionghoa, seperti naga, ornamen yang berasal dari keramik Tiongkok kuno, dan ornamen berbentuk mega berwarna merah atau merah dan biru. Batik Tionghoa juga mengandung berbagai karangan bunga hias, khususnya batik Tionghoa yang dipengaruhi corak Batik Belanda. Motif batik dimensi Tionghoa adalah efek yang dicapai dengan menggunakan ketebalan yang berbeda dari satu warna ke warna lain dan isian pola yang sangat rumit. Hal ini didukung dengan penggunaan pewarna sintetik jauh sebelum masyarakat Indo-Belanda menggunakannya.

Batik Tulis lok can

Batik Lok Can awalnya dibuat dengan sutra (Tionghoa: Can = sutra). Warna motif batik Lok Can didominasi oleh warna biru, terutama biru muda (Tionghoa: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem. Namun, saat ini Anda bisa menemukan Batik Lok Can katun primis dengan variasi warna yang lebih menarik dan terjangkau.

Hiasan utama dari motif Batik Las Can Lok Can sebenarnya adalah corak hong (phoenix). Meski terkadang menjelma menjadi pola burung kecil yaitu dompet / sriti yang melimpah di Lasem. Mengganti motif burung phoenix selalu sejalan dengan motif flora dan fauna. Selain nilai seni estetiknya, batik pria Lasem Lok Can memiliki makna filosofis sosial yaitu Burung Phoenix (Hong) melambangkan kebajikan, prestasi dan keabadian.

Leave a Comment